Ahmad Taufik, Cerita Heroik Bocah Angon dari Citarik

 Biografi Kita352 Dilihat

BIOGRAFIKITA – Masih ingat kisah seorang bocah penggembala sapi yang menemukan tiga granat aktif di rel kereta api antara Stasiun Lemahabang dan Kedunggede pada tahun 2001 silam? Dialah Ahmad Taufik, siswa kelas 3 SMP Negeri 1 Lemahabang, Kabupaten Bekasi, yang kala itu baru berusia 15 tahun.

Aksinya yang heroik menyelamatkan nyawa para penumpang kereta api dari ancaman sabotase, dan menjadikannya sorotan nasional.

Berkat keberaniannya, “bocah angon” asal Kampung Citarik, Desa Karangsari itu menerima berbagai penghargaan, bahkan diundang langsung ke Istana Negara oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Namun, hampir dua dekade berlalu, di mana dan bagaimana kabar Ahmad Taufik kini?

Sebuah media lokal berhasil menemui pria yang kini bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu sekolah swasta di kawasan Grand Cikarang City, Desa Karangraharja, Cikarang Utara. Namanya tertera jelas di seragam: “Ahmad Taufik”.

“Waktu itu hari Senin, 8 Januari 2001. Sekitar pukul setengah dua siang, sepulang sekolah saya sedang menggembalakan empat ekor sapi di dekat rel kereta api kawasan Citarik. Tiba-tiba saya lihat kawat terlilit di kaki sapi. Saat saya telusuri, ternyata kawat itu terhubung ke tiga granat—dua jenis nanas dan satu jenis manggis. Mirip di film Rambo. Saya tahu itu berbahaya dan harus segera dilaporkan,” kenang Taufik.

Niat awalnya adalah melapor ke Polsek Lemahabang. Namun jarak yang cukup jauh dan kekhawatiran kereta keburu lewat membuatnya memilih jalan lebih cepat—berlari sejauh 500 meter ke pos penjaga palang pintu kereta.

“Saya lari di pinggir rel sampai jatuh berkali-kali, napas ngos-ngosan. Akhirnya sampai ke Pak Didi, penjaga palang, dan melapor,” tuturnya.

Bersama Pak Didi, Taufik kembali ke lokasi. Warga yang mendengar kabar penemuan bom mulai berdatangan. Namun belum sempat situasi diamankan, dari kejauhan terdengar suara klakson kereta.

“Saya pikir, ‘Wah, ini bisa meledak, kereta bakal hancur.’ Setelah itu saya nggak sadar lagi,” katanya.

Taufik baru siuman di Rumah Sakit Annisa Lemahabang, di bawah pengawasan aparat keamanan. Informasi yang diterimanya, kereta berhasil dihentikan oleh warga yang mengibarkan kain merah sebagai tanda bahaya. Tim Gegana pun turun tangan dan mengamankan ketiga granat tersebut.

Sejak peristiwa itu, hidup Taufik berubah. Bocah kelahiran 12 Desember 1986 ini menerima berbagai penghargaan dari tokoh-tokoh penting—Kapolres, Bupati Bekasi saat itu, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, hingga Presiden Gus Dur.

Namanya menghiasi berbagai media nasional. Wajahnya tampil di halaman surat kabar hingga layar televisi. Sebuah media bahkan menulis editorial berjudul “Ahmad Taufik, Oase dari Karangsari” sebagai simbol harapan di tengah minimnya kepedulian sosial saat itu.

“Waktu ketemu Gus Dur, saya diberi beasiswa Rp10 juta untuk biaya sekolah, dan sebuah jam tangan,” kenangnya, kini sebagai pria berusia 33 tahun dan telah menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Meski saat ini bekerja sebagai security, Taufik tak pernah menyesali jalan hidupnya. Ia justru merasa bersyukur pernah melakukan sesuatu yang berarti bagi kemanusiaan. Baginya, kepedulian adalah warisan yang tak lekang oleh waktu.

Ia pun berpesan kepada generasi muda untuk lebih aktif menjalin hubungan sosial secara nyata, bukan hanya lewat media digital.

“Anak muda sekarang harus lebih sering silaturahmi, ngobrol langsung, duduk bareng. Jangan cuma lewat sosmed atau WA. Kita nggak tahu, bisa jadi ada saudara yang sedang butuh bantuan,” ucapnya.

Kini, bersama sang istri Yati Yulianti dan ketiga anaknya, Taufik tinggal di Kampung Pintu Air, Desa Karangraharja, Cikarang Utara. Ia tengah merintis sebuah sekolah alternatif bernama Rumah Bimbel Juara (RBJ)—tempat belajar dengan biaya sangat terjangkau, bahkan gratis untuk anak-anak yatim piatu. (**).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *