Teguh Wibowo “Si Anak Kolong” Penggerak Pendidikan dan Wirausaha Berkarakter

 Biografi Kita511 Dilihat

BIOGRAFIKITA – Teguh Wibowo, pria berdarah Banjarnegara, dikenal sebagai tokoh pendidikan dan praktisi bisnis di Bekasi. Anak keenam dari delapan bersaudara ini tumbuh sebagai “anak kolong”, sebutan untuk anak tentara, karena ayahnya adalah pejuang kemerdekaan yang berdinas di militer.

Berangkat dari keprihatinannya terhadap nasib lulusan SLTA yang tidak melanjutkan pendidikan dan sulit mengakses dunia kerja, Teguh mendirikan Yayasan Pendidikan Global Insan Mulia Cikarang.

“Yayasan ini menaungi SMK Global Mulia, LPK untuk penempatan kerja ke Eropa dan Jepang dan Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Global Mulia, yang fokus mencetak wirausaha berbasis syariah,” terangnya.

Ia juga mendirikan Pesantren Tahfidz Modern, yang membina santri calon penghafal Al-Qur’an dan berkesempatan kuliah ke Timur Tengah, tanpa biaya pendidikan, makan, atau asrama. Semua lembaga ini berlokasi di Mekarmukti, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Tak hanya di bidang pendidikan, Teguh juga merambah ke dunia properti. Ia membangun perumahan terjangkau di Bekasi, Karawang, dan Subang.

“Usaha ini tumbuh justru di tengah pandemi, karena baginya, dunia properti bisa menciptakan manfaat bagi banyak pihak, dari pemilik tanah hingga tukang bangunan,” ujarnya.

Teguh menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Banjarnegara, lalu merantau untuk kuliah dan kini sedang menempuh pendidikan doktoral (S3). Ia pernah menjadi dosen di berbagai kampus, mengajar dari kota ke kota, meskipun harus pulang larut malam, demi semangat berbagi ilmu.

Ia kini menjabat sebagai Ketua Forum Investor Bekasi, Dewan Pakar ICMI Otda Kabupaten Bekasi, Pengurus KADIN, Apindo, ASPHRI, BMPS, dan lainnya.

Bagi Teguh, kunci hidup adalah bermanfaat bagi sesama. Ia percaya bahwa doa orang tua, keikhlasan dalam menolong, dan komitmen pada nilai-nilai adalah fondasi keberkahan.

“Bukan uang yang jadi tujuan, tapi kemanfaatan,” ungkapnya.

Baginya, sukses bukan tentang terlihat menonjol, melainkan tentang menginspirasi dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya.

“Khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.” ungkapnya. (**).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *