Mohamad Hasyim Achmad: Pejuang, Politisi, dan Pengusaha dari Bekasi

 Biografi Kita377 Dilihat

BIOGRAFIKITA – Bekasi dikenal sebagai kota pejuang. Dari tanah ini, ribuan putra bangsa ikut menorehkan sejarah kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Mohamad Hasyim Achmad, tokoh asal Cibitung yang namanya tercatat resmi dalam Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran No. 186/B/Kpts/MUV/1962.

Lahir pada 19 April 1920, Hasyim Achmad ditempa oleh suasana perjuangan sejak muda. Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung sebagai Komandan Barisan Pelopor Cibitung, sebuah organisasi pemuda di bawah kepemimpinan dr. Muwardi.

Barisan Pelopor menjadi kawah candradimuka bagi pemuda seperti Hasyim. Meski hanya berlatih dengan senjata kayu dan bambu runcing, semangat juang mereka membara. Dari sinilah ia belajar dasar-dasar kemiliteran.

Tak berhenti di sana, ketika Sukarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Mas Mansoer membentuk organisasi Poetera (Poesat Tenaga Rakjat), Hasyim pun turut aktif. Ia dipercaya menjadi Ketua Poetera Cibitung.

Menjelang proklamasi, Barisan Pelopor pusat memberi mandat penting kepada Hasyim: membentuk pasukan, mengumpulkan senjata, dan menggerakkan massa untuk menekan Jepang. Tugas itu ia jalankan dengan penuh keberanian.

Hasyim menyusun barisan massa di desa-desa, menciptakan kekacauan bagi pendudukan Jepang, dan melemahkan kekuasaan mereka. Aksi-aksinya menjangkau Cikarang, Cileungsi, Karawang, hingga Indramayu.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, ia dan pasukannya mendapat perintah menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan Merah Putih. Dalam waktu sepekan, pasukannya berhasil mengambil alih kekuasaan Jepang di banyak wilayah strategis seperti Tambun, Cikarang, Karawang, Rengasdengklok, hingga Pamanukan.

Keberhasilan itu bukan kebetulan. Jauh hari sebelumnya, Hasyim telah membangun jaringan massa yang kuat di tiap daerah. Itulah yang membuat gerakannya cepat dan efektif.

Ia juga bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API), organisasi yang lahir dari kelompok pemuda Menteng 31. Di sana, ia ikut menjaga keamanan Sukarno dan Hatta serta menggalang massa untuk menghadiri Rapat Raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945.

Dalam fase mempertahankan kemerdekaan, Hasyim bergabung ke Biro Perjuangan, wadah laskar di bawah Kementerian Pertahanan. Ketika Biro Perjuangan dilebur dengan TRI menjadi TNI pada 1947, ia tetap aktif mengangkat senjata melawan Belanda.

Medan juangnya luas: dari Tambun, Cibitung, Cikarang, Cibarusah, Cileungsi, Karawang, hingga Indramayu. Hasyim memimpin pertempuran gerilya dengan keberanian yang jarang tertandingi.

Namun perjuangannya tidak berhenti di medan perang. Ia juga meniti jalur politik dengan menjadi Ketua KNI Kecamatan Cibitung pada 1945–1950. Perannya penting dalam membangun struktur pemerintahan lokal pasca kemerdekaan.

Selepas perang, Hasyim memilih mengabdi di dunia politik dan pemerintahan. Ia tercatat sebagai anggota DPD dan DPRD Kabupaten Bekasi, bahkan dipercaya menjadi Ketua DPRD Kabupaten Bekasi pada 1960.

Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong terbentuknya Kabupaten Bekasi. Pada 1956, saat Sukarno berkunjung ke Bekasi bersama sejumlah pejabat tinggi negara, Hasyim turut menyambut sebagai wakil rakyat.

Di luar politik, Hasyim aktif di dunia usaha. Sejak usia 18 tahun, ia telah membangun bisnis kecil. Uniknya, hasil usaha itu banyak ia gunakan untuk membiayai pasukannya saat berjuang melawan penjajah.

Pengorbanannya luar biasa. Harta pribadinya rela dikorbankan demi perjuangan. Ia membuktikan bahwa cinta tanah air tak hanya dengan senjata, tetapi juga dengan pengorbanan materi.

Sebagai pejuang yang juga pengusaha, sosok seperti Hasyim Achmad jarang ditemui. Ia memadukan semangat religius, nasionalisme, dan kerja nyata dalam setiap langkah hidupnya.

Atas jasanya, pada 17 Agustus 1992, pemerintah memberikan penghargaan berupa Pemancangan Bambu Runcing di pusaranya. Tanda kehormatan itu menjadi bukti pengakuan negara atas kiprahnya.

Hasyim Achmad wafat pada April 1978 di usia 58 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga di Cikarang Barat. Meski telah tiada, namanya tetap hidup sebagai simbol perjuangan, politik, dan pengabdian dari tanah Bekasi. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *